Wednesday, December 3, 2008

Kopi Indonesia dan Starbucks




Satu ciri yang menjadi fenomena di Amerika Utara adalah kedai kopi Starbucks. Sangat mudah menemukan kedai ini di setiap sudut kota besar. Sering terlihat orang mengantri untuk sekedar membeli segelas (bukan cangkir) kopi Starbucks. Sebagai penikmat kopi, saya beberapa kali mencicipi kopi ini, terutama sebelum isteri datang menyusul. Pendapat saya, selain harganya yang mahal, tidak ada yang istimewa. Rasanya, maaf, tidak sesuai selera penikmat kopi. Sayang juga mengeluarkan uang CAD$ 1.65 (sebelum pajak) hanya untuk segelas kopi yang kurang enak.

Saya sebelumnya terbiasa dengan Douwe Egbert atau Jacobs, kopi dalam kemasan terlaris di Belanda dan Jerman, lalu menyeduh sendiri. Saat di Jerman, saya sempat membeli kopi yang digiling segar di retailer Tchibo (wanginya luar biasa). Dibandingkan merek ini, kopi Starbucks tidak sebanding. Beberapa rekan yang biasa membeli Starbucks juga mengatakan hal yang sama. Masalahnya, kadang sulit menemukan pilihan kedai kopi selain Starbucks. Dibandingkan pesaingnya seperti Blenz dan Tim Hortons, Starbucks memang dimana-mana. Suatu hari, satu kedai Starbucks di toko buku kampus menawarkan pilihan kopi Sumatera. Lagi-lagi, rasanya tidak sebanding dengan kopi Lampung asli, yang biasa dijual dalam blek kaleng. Barangkali, masalah rasa ini pula yang menyebabkan Starbuck tidak terlalu populer di Belanda dan Jerman, yang terkenal sebagai "peminum kopi berat". Orang sana lebih suka mengopi di kedai-kedai lokal, atau menyeduh kopi sendiri.


Starbucks rupanya mulai merambah pasar Indonesia. Saya belum pernah mencoba membeli kopi Starbucks di Indonesia (saya pikir untuk apa, masih ada kopi lokal yang rasanya di"pikasono" (dikangeni): Kapal Api). Iseng-iseng menggugel, saya dapati konon harga secangkir kopi Starbucks paling murah adalah Rp. 17.500 (sepertinya sebelum pajak). Buka kalkulator, angka ini setara dengan CAD$ 2,00. Masya Allah!

Kenapa?
  1. Harga ini 35 cent (Rp. 2800) lebih mahal dibandingkan secangkir Starbucks yang paling murah di Vancouver
  2. Biji kopi Starbucks didatangkan dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Sungguh menyesakkan jika harga secangkir kopi Indonesia di Indonesia lebih mahal dibandingkan di luar Indonesia.
  3. Dengan harga eceran 35 cent lebih murah, upah pegawai kedai Starbucks di Vancouver bisa mencapai CAD$ 8/jam. Di Indonesia, mungkin mereka cuma diupahi CAD$8/hari. Aneh khan?

Jika sebagian masyarakat Indonesia menganggap Starbucks adalah bagian dari gaya hidup kelas tinggi, kenyataannya di luar tidaklah demikian. Starbucks disini hanyalah tempat untuk membeli kopi dengan cepat, dan bukan cerminan gaya hidup itu sendiri. Starbucks adalah praktis. Orang akan lebih menikmati kopi di kedai-kedai lokal atau restoran yang menawarkan kopi dengan kualitas yang lebih baik, dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan Starbucks.

Awalnya, Starbucks yang dirintis di Seattle, Washington, tahun 1971, hanya sebatas menjual biji kopi dan mesin pembuat kopi (brewer). Tahun 1980an, pemilik baru Starbucks memutuskan untuk membuat budaya baru: coffee-to-go, dan terbilang sukses. Pengalaman saya, kopi di Amerika secara umum tidak enak dan sangat encer. Seorang teman Belanda mengatakan, kopi di Amerika itu seperti air dicampur pewarna hitam. Starbucks memang menawarkan kopi yang lebih baik dari umumnya kopi Amerika. Uniknya, seorang teman asal Philadelphia yang berkunjung ke Berlin menolak ditawari Starbucks saat menjelang coffee break. Dia bilang, "tidak enak dan ada yang lebih enak." Rupanya dia pergi ke Blenz Coffee yang tidak terlalu jauh dari Starbucks.

Di Amerika, 600an kedai Starbucks rencananya akan ditutup karena kinerjanya tidak memuaskan. Rencana penutupan ini disambut dengan positif oleh banyak penikmat kopi karena keberadaan Starbucks sering mematikan kedai kopi lokal. Biasanya, Starbucks membuka beberapa kedai secara keroyokan di dekat kedai kopi lokal yang laris. Karena kebanyakan kedai lokal memiliki modal yang terbatas, banyak yang akhirnya tutup karena kalah bersaing.

Bulan Oktober 2008, harga kopi dunia sempat anjlok sampai pada kisaran 60-70 cent Amerika per pound (atau Rp. 10800-12600/kg). Saya tidak ingat berapa puluh cangkir kopi bisa saya buat dari 1 kg kopi giling segar Tchibo. Hanya saja, kalau dibandingkan harga termurah Starbucks, terlihat betapa petani kopi hanya mendapatkan porsi yang sedikit dari harga jual kopi seduh yang tinggi. Tidak heran banyak petani kopi yang miskin.

Ada beberapa fakta tentang kopi Indonesia:
  1. Kopi pertama kali ditanam oleh VOC di Priangan tahun 1699. Tahun 1711 menandai ekspor perdana kopi Jawa ke Belanda.
  2. Indonesia adalah penghasil kopi terbesar keempat di dunia, dengan perkiraan total produksi mencapai 2 juta ton di tahun 2008. 
  3. Menurut website Douwe Egbert, perusahaan kopi Belanda yang berdiri sejak tahun 1753: The Indonesian Islands produce 'The Heavyweights' of coffees, famous for their smoothness, pronounced deep-toned but gentle acidity, full body richness and lingering finishes with a touch of spice and earthiness enveloped in the complexity of the coffee. Considered by many as the world's finest, especially those who take a cloud of cream in their coffee.
  4. Kopi termahal di dunia adalah kopi Luwak, yang diekspor dari Indonesia oleh sebuah perusahaan yang berkantor di Australia. Harga ecerannya US$ 120 - US$600/pound (kira-kira 0.4 kg). Setelah masuk restoran atau cafe, harga per cangkirnya bisa mencapai US$ 50.

Dunia begitu menghargai kopi Indonesia. Semestinya orang Indonesia lebih menghargai kopinya sendiri dan menghargai mereka yang bekerja keras untuk membuat kopi terasa enak.

Tips minum kopi: jangan menambahkan gula atau krim/susu terlalu banyak ke dalam kopi. Kopi seperti ini, oleh orang Belanda, disebut sebagai "koffie verkeerd" (kopi ngaco). Idealnya, kopi diminum tanpa tambahan gula dan krim/susu.


1 comment:

Ibba Hisyam said...

tulisannya sangat bermanfaat.
saya sedang mencari karakter 'mengopi' yang pas buat saya... n ini sangat membantu, terutama juga agar petani2 kita lebih makmur.